Revitalisasi Tanpa Visi : Telaga Wahyu Jadi Monumen Gagalnya Pembangunan Magetan

Tags: , , , , , , , ,
oplus_1026

Magetan — Nusativi.com — Proyek revitalisasi Telaga Wahyu yang digadang-gadang menjadi salah satu ikon wisata unggulan di Kabupaten Magetan kini berubah menjadi potret kegagalan perencanaan dan pemborosan anggaran. Alih-alih menghadirkan kawasan wisata berkelas yang mampu menggerakkan ekonomi rakyat, proyek yang menelan dana miliaran rupiah dari APBD tersebut kini justru mangkrak dan tidak memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekitar.

Kawasan Telaga Wahyu yang semula memiliki potensi alam indah dan letak strategis di jalur menuju Telaga Sarangan kini terlihat mati suri. Fasilitas yang dibangun setengah hati, desain yang tidak sesuai dengan karakter kawasan, dan minimnya keberlanjutan program menjadikan proyek ini hanya sekadar formalitas untuk menghabiskan anggaran.

Lebih ironis lagi, proyek ini menjadi bukti gagalnya master plan pengembangan pariwisata yang dicanangkan oleh Pemerintah Kabupaten Magetan. Tidak adanya sinergi antarinstansi, lemahnya kajian lingkungan, serta minimnya keterlibatan masyarakat lokal dalam proses perencanaan membuat Telaga Wahyu kehilangan arah pengembangan.

AktivisMagetan, Rudi Setiawan, menilai proyek tersebut tidak hanya gagal secara teknis, tapi juga moral dan visi pembangunan daerah.

> “Proyek Telaga Wahyu ini adalah simbol ketidakseriusan Pemkab dalam menjalankan perencanaan berbasis keberlanjutan. Mereka menghabiskan anggaran besar tanpa analisis manfaat jangka panjang, tanpa mendengar suara warga, dan tanpa mempertimbangkan aspek ekologi kawasan,” ujar Rudi.

Rudi juga mengungkapkan bahwa proyek-proyek seperti ini seringkali lebih menonjolkan aspek seremonial ketimbang dampak riil bagi masyarakat.

> “Coba lihat sekarang, fasilitasnya rusak, kunjungan wisata stagnan, dan pedagang kecil di sekitar situ justru rugi. Kalau master plan itu benar-benar dijalankan dengan visi, mestinya Telaga Wahyu bisa jadi penopang ekonomi masyarakat sekitar Sarangan. Tapi kenyataannya, semua hanya berhenti di atas kertas,” tambahnya.

Menurutnya, akar persoalan ada pada lemahnya kontrol publik terhadap kebijakan pembangunan daerah. DPRD yang seharusnya menjadi mitra kritis pemerintah justru terlihat diam. Sementara Inspektorat dan Bappeda seolah menutup mata terhadap perencanaan yang cacat sejak awal.

> “Pemkab Magetan perlu berani melakukan audit menyeluruh terhadap proyek ini. Jangan dibiarkan menguap begitu saja. Ini uang rakyat, bukan dana pribadi pejabat. Jika gagal, harus ada pertanggungjawaban, bukan sekadar alasan teknis,” ungkap Rudi geram.

Kini, masyarakat Magetan menuntut transparansi. Mereka berharap Telaga Wahyu tidak hanya menjadi catatan gagal di laporan pembangunan, tetapi menjadi momentum bagi Pemkab untuk berbenah mulai dari perencanaan yang matang, pengawasan yang ketat, hingga keberanian membuka data publik secara jujur.

Pada akhirnya, kegagalan Telaga Wahyu bukan sekadar soal beton yang retak atau bangunan yang terbengkalai, tetapi tentang rusaknya kepercayaan publik terhadap visi pembangunan daerah. Jika pemerintah daerah terus membiarkan proyek semacam ini berulang, maka Magetan akan terus tertinggal bukan karena kurang potensi, tapi karena salah urus dan hilangnya integritas dalam setiap kebijakan. (Vha)