Petani Sayur di Nitikan Menjerit : Kubis Busuk, Harga Anjlok, Pemkab Magetan Tutup Mata

Tags: , , , , , , , ,
Oplus_131072

Magetan — Nusativi.com — Di tengah gegap gempita pemerintah pusat yang terus menggembar-gemborkan program ketahanan pangan nasional, realitas di lapangan justru menampar keras wajah kebijakan tersebut. Petani sayuran di Desa Nitikan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, kini tengah menjerit. Hasil panen mereka terutama kubis membusuk di lahan akibat cuaca tak menentu dan harga jual yang jatuh bebas.

 

“Sekilo kubis sekarang cuma laku seribu rupiah mas. Mau dijual pun nggak nutup ongkos tanam, pupuk, sama perawatan,” keluh salah satu petani, dengan nada pasrah. Ia mengaku modal yang dikeluarkan tak sebanding dengan hasil yang didapat. “Kalau dihitung, kita rugi besar. Tapi mau gimana lagi, kerjaan kita cuma ini,” tambahnya.

 

Kondisi kian diperparah dengan banjirnya pasokan sayur dari luar daerah yang bebas masuk ke pasar-pasar Magetan tanpa pengawasan berarti dari pemerintah. Akibatnya, produk petani lokal terpinggirkan di pasar sendiri. Sementara itu, pihak Pemerintah Kabupaten Magetan seolah menutup mata. Tak ada langkah konkret untuk menstabilkan harga, memberikan perlindungan pasar bagi petani lokal, maupun menyalurkan bantuan kompensasi bagi mereka yang gagal panen.

Padahal, di saat yang sama, anggaran untuk ketahanan pangan di daerah dikucurkan dengan nilai fantastis. Namun, ironinya, program tersebut justru tak menyentuh akar persoalan nasib petani kecil di pelosok desa yang menjadi ujung tombak ketahanan pangan itu sendiri.

 

Aktivis Magetan, Rudi Setiawan, menyoroti ketimpangan ini dengan tajam. “Ketahanan pangan itu bukan hanya soal program dan anggaran besar di atas kertas. Ini tentang keberpihakan pada petani kecil. Kalau mereka dibiarkan merugi tanpa perlindungan harga, itu artinya pemerintah gagal memastikan keadilan ekonomi di sektor pertanian,” tegasnya.

 

Kini, di tengah busuknya kubis di ladang dan lesunya semangat petani di kaki Gunung Lawu, publik kembali mempertanyakan: d mana peran Pemkab Magetan? Sampai kapan petani akan terus dibiarkan berjuang sendiri menghadapi badai cuaca, permainan pasar, dan kebijakan yang tak berpihak. (Vha)