
MAGETAN — Nusativi.com — Tradisi adat Labuhan Sarangan kembali digelar di kawasan wisata Telaga Sarangan, Kabupaten Magetan, Jumat (16/1/2025). Kegiatan tahunan ini kembali menyedot perhatian wisatawan sekaligus masyarakat setempat yang memadati area telaga sejak pagi hari.
Rangkaian acara Labuhan Sarangan diawali dengan pertunjukan tari tradisional, kirab budaya, larung tumpeng ke Telaga Sarangan, hingga makan bersama masyarakat. Suasana kental adat istiadat terasa kuat, mencerminkan warisan budaya leluhur yang masih dijaga hingga kini.
Salah satu warga asli Sarangan, Maryo, mengungkapkan bahwa pelaksanaan Labuhan Sarangan tahun ini terasa lebih meriah dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Dari pertunjukan, makanan, sampai jumlah wisatawannya, tahun ini jauh lebih meriah dan antusias. Banyak pengunjung dari luar daerah yang datang,” ujar Maryo saat ditemui di lokasi acara.
Kemeriahan Labuhan Sarangan tahun ini juga menjadi penegas posisi tradisi tersebut sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) yang telah ditetapkan pada tahun 2025 dengan domain adat istiadat, ritus, dan perayaan tradisional.
Dalam sambutannya, Bupati Magetan, Nanik Sumantri, menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Magetan untuk terus menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak utama perekonomian daerah.
“Labuhan Sarangan menjadi momentum penting untuk mempromosikan Magetan sebagai destinasi wisata unggul yang berkarakter, berbasis budaya, dan berkelanjutan,” tegas Nanik Sumantri.
Menurutnya, penguatan tradisi lokal tidak hanya bertujuan melestarikan budaya, tetapi juga memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar kawasan wisata.
“Kami ingin pariwisata Magetan tumbuh tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya. Keterlibatan masyarakat menjadi kunci agar manfaatnya benar-benar dirasakan bersama,” imbuhnya.
Dengan antusiasme wisatawan yang terus meningkat, Labuhan Sarangan dinilai tidak hanya sebagai ritual adat semata, tetapi juga sebagai magnet wisata budaya yang memperkuat identitas Magetan di tingkat regional maupun nasional. (Vha)
Related Posts

Dari Gandu Karangrejo untuk Generasi Muda, Kirab Budaya dan Bersih Desa Jadi Cara Warga Menjaga Warisan Leluhur

Bersih Desa Suratmajan: Merawat Jejak Leluhur dan Menjaga Tayub Tetap Hidup di Tengah Zaman Modern

Ruang Publik atau Ruang Politik? Seniman Reog Magetan Soroti Ketimpangan Izin

Doa, Selamatan hingga Tayuban, Begini Tradisi Bersih Desa Pingkuk!!!

Punden Setinggil Kembali Jadi Pusat Bersih Desa, Kades Pojok Tegaskan Pentingnya Melestarikan Budaya


