Dari PAW yang Dipaksakan, Dugaan Korupsi Pokir Magetan Terkuak

Tags: , , , , , , , , ,

Magetan — Nusativi.com — Kisruh yang kini menyeret perhatian publik di Kabupaten Magetan bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia berawal dari proses dugaan Pergantian Antar Waktu (PAW) yang sarat polemik, lalu merembet ke dugaan penyelewengan anggaran Pokok-pokok Pikiran (Pokir) DPRD yang kini menyeruak ke ruang publik dengan aroma korupsi yang kian menyengat.

 

Sejak awal, proses PAW diwarnai kegaduhan yang mencerminkan buruknya tata kelola politik lokal. Alih-alih dijalankan secara transparan, akuntabel, dan sesuai mekanisme demokrasi, PAW justru terkesan menjadi arena rebutan kepentingan. Lebih memprihatinkan lagi, muncul kesan adanya sikap jumawa—seolah-olah kewenangan publik bisa diatur sesuka hati oleh segelintir elite yang merasa memiliki kuasa penuh atas proses politik.

 

Arogansi semacam ini tidak hanya mencederai demokrasi, tetapi juga membuka ruang bagi praktik-praktik penyimpangan lainnya. Apa yang terjadi hari ini membuktikan bahwa ketika proses politik tidak dijalankan dengan integritas, maka dampaknya akan menjalar ke berbagai lini, termasuk dalam pengelolaan anggaran publik.

 

Kasus dugaan penyelewengan Pokir, khususnya proyek sumur di beberapa titik, menjadi bukti nyata bagaimana kekuasaan yang tidak terkontrol berpotensi disalahgunakan. Program yang seharusnya menjadi sarana aspirasi rakyat justru diduga menjadi ladang bancakan. Ini bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan masyarakat.

 

Namun di tengah kegelapan ini, muncul secercah harapan. Penanganan kasus ini oleh Kejaksaan Negeri Magetan menjadi momentum penting—sebuah titik balik bagi penegakan hukum di daerah ini. Masyarakat yang selama ini hanya bisa mengelus dada, kini mulai melihat bahwa hukum masih memiliki taring, asalkan didorong oleh keberanian dan tekanan publik.

 

Lebih dari itu, peristiwa ini seharusnya menjadi refleksi kolektif bagi masyarakat Magetan. Demokrasi tidak boleh lagi dipertaruhkan dengan iming-iming sesaat. 

 

Praktik politik uang, bahkan yang nilainya hanya puluhan ribu rupiah, harus disadari sebagai pintu masuk kehancuran sistem. Ketika suara rakyat dihargai dengan amplop Rp50 ribu, maka jangan heran jika yang lahir adalah pemimpin yang hanya menghitung keuntungan, bukan pengabdian.

 

Momentum ini harus dimanfaatkan sebagai pembelajaran politik yang mahal. Masyarakat harus lebih selektif dalam memilih wakilnya—bukan karena kedekatan, bukan karena uang, tetapi karena kualitas, kompetensi, dan integritas. Tanpa itu, siklus penyimpangan akan terus berulang.

 

Pada akhirnya, kisruh PAW dan mencuatnya dugaan korupsi Pokir ini bukan sekadar skandal, melainkan cermin buram demokrasi lokal. Pertanyaannya sekarang sederhana: apakah kita akan terus membiarkan cermin itu retak, atau mulai memperbaikinya bersama?

Magetan sedang diuji. Dan sejarah akan mencatat, apakah kita memilih diam atau melawan. Semoga alam meridhoi. 

Penulis : Rudi Setiawan (Aktivis Magetan)