
MAGETAN __ NUSATIVI.COM __ Di tengah pesatnya perkembangan zaman, masyarakat Desa Pojok, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan, masih mempertahankan tradisi Bersih Desa sebagai bagian dari identitas budaya yang diwariskan para leluhur. Tradisi tahunan yang digelar setiap bulan Suro pada Jumat Pon itu kembali berlangsung khidmat di kawasan Punden Setinggil, Jumat (10/7/2026).
Ratusan warga tampak memadati lokasi sejak pagi. Mereka mengikuti prosesi doa bersama dan slametan sebagai bentuk rasa syukur sekaligus harapan agar kehidupan masyarakat tetap diberi keselamatan, kemakmuran, dan keharmonisan. Suasana kemudian semakin semarak dengan pagelaran seni tayub yang menjadi bagian dari rangkaian adat Bersih Desa.
Kepala Desa Pojok, Dedy Sumedi, menilai tradisi tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar ritual tahunan. Menurutnya, Bersih Desa menjadi media untuk mempererat hubungan antarmasyarakat sekaligus menjaga warisan budaya agar tidak hilang ditelan zaman.
“Kami ingin tradisi ini terus hidup dan dikenal oleh generasi muda. Bersih Desa bukan hanya tentang seremoni adat, tetapi juga mengajarkan kebersamaan, gotong royong, dan rasa hormat kepada budaya yang telah diwariskan para leluhur,” ujar Dedy.
Ia menjelaskan, pelaksanaan Bersih Desa secara konsisten dilakukan setiap bulan Suro, tepatnya pada Jumat Pon. Momentum tersebut dimanfaatkan masyarakat untuk berkumpul, berdoa, dan memperkuat silaturahmi tanpa membedakan latar belakang.
“Harapan kami, melalui kegiatan ini masyarakat Desa Pojok selalu diberikan keselamatan, rezeki yang melimpah, kehidupan yang rukun, serta dijauhkan dari segala marabahaya,” katanya.
Menurut Dedy, Punden Setinggil memiliki nilai historis yang kuat bagi masyarakat Desa Pojok. Di kalangan warga juga berkembang cerita turun-temurun mengenai pentingnya menjaga tradisi Bersih Desa.
“Para sesepuh desa bercerita bahwa dahulu pernah Bersih Desa tidak dilaksanakan, kemudian terjadi musibah yang menimpa kepala desa pada masa itu. Cerita tersebut menjadi bagian dari kearifan lokal yang masih dipercaya sebagian masyarakat. Namun yang terpenting bagi kami adalah menjaga tradisi sebagai warisan budaya sekaligus mempererat persatuan warga,” ungkapnya.
Bagi masyarakat Desa Pojok, Bersih Desa bukan hanya agenda tahunan, melainkan ruang untuk merawat nilai-nilai kebersamaan yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat. Di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung, tradisi ini menjadi pengingat bahwa budaya lokal tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan warga dan patut dijaga keberlangsungannya dari generasi ke generasi. (Dk)
Related Posts

Dari Gandu Karangrejo untuk Generasi Muda, Kirab Budaya dan Bersih Desa Jadi Cara Warga Menjaga Warisan Leluhur

Bersih Desa Suratmajan: Merawat Jejak Leluhur dan Menjaga Tayub Tetap Hidup di Tengah Zaman Modern

Ruang Publik atau Ruang Politik? Seniman Reog Magetan Soroti Ketimpangan Izin

Doa, Selamatan hingga Tayuban, Begini Tradisi Bersih Desa Pingkuk!!!

Mengintip Sakralnya Larung Sembonyo Pantai Popoh: Komitmen Plt Bupati Tulungagung Jaga Tradisi dan Dongkrak Ekonomi Pesisir





