Sambut 2026, Kirab Reog Sardulo Manggolo Tambran Awali Langkah dari Makam Bupati Pertama Magetan

Tags: , , , , , , , , , ,
oplus_1026

MAGETAN — Nusativi.com — Pergantian Tahun Baru 2026 dimaknai secara berbeda oleh Paguyuban Seni Reog Ponorogo Sardulo Manggolo Tambran Gagrak Magetan. Alih-alih sekadar perayaan seremonial, paguyuban ini menggelar kirab budaya sarat nilai sejarah dan filosofi kehidupan, Minggu (4/1/2026).

Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama di makam Eyang R.T. Yosonegoro, tokoh penting yang dikenal sebagai Bupati Magetan pertama. Lokasi tersebut bukan dipilih tanpa alasan. Ia menjadi simbol penghormatan terhadap akar sejarah pemerintahan Magetan sekaligus penegasan bahwa budaya lahir dari perjalanan panjang para leluhur.

Seluruh peserta kirab mengikuti doa bersama sebagai bentuk penghormatan dan refleksi, sebelum melanjutkan prosesi kirab budaya yang menyusuri sejumlah ruas jalan utama kota.

Nuansa khidmat berpadu dengan energi budaya yang kuat, menandai awal tahun dengan kesadaran historis.

Pimpinan Paguyuban Sardulo Manggolo Tambran Gagrak Magetan, Andri Agus Setiawan, menegaskan bahwa ruh utama kegiatan ini adalah sejarah dan tanggung jawab lintas generasi.

“Menyambut Tahun Baru 2026 kami angkat tema ‘Biyen Kinarya, Saiki Kinarja, Sesok Kinarsa’. Tema ini bukan sekadar slogan, tapi pengingat perjalanan hidup dan sejarah Magetan. Dimulai dari makam R.T. Yosonegoro, kami memohon doa untuk para leluhur yang telah meletakkan pondasi daerah ini,” ujarnya.

Andri menjelaskan, filosofi tersebut merefleksikan kesinambungan zaman. Biyen Kinarya dimaknai sebagai kesadaran bahwa Magetan hari ini berdiri di atas karya dan pengorbanan para pendahulu.

Saiki Kinarja menjadi pesan moral bagi generasi sekarang untuk terus berkarya dan menjaga warisan budaya. Sementara Sesok Kinarsa merupakan harapan agar di masa depan, budaya tetap lestari dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Usai doa bersama, kirab budaya bergerak menyusuri Jalan Seno, Jalan Pahlawan, Jalan Pandu (barat Pegadaian), hingga Jalan Melati sebagai titik akhir. Atraksi dadak merak, tabuhan musik reyog, serta gerak para penari menghadirkan suasana magis yang membangkitkan ingatan kolektif akan keterikatan budaya Ponorogo–Magetan yang telah hidup lintas generasi.

Pagelaran semakin semarak dengan kehadiran pembarong putri Intan dan Ririn, yang mencuri perhatian masyarakat di sepanjang rute kirab. Tak hanya menjadi tontonan, kegiatan ini menjelma sebagai ruang edukasi budaya dan sejarah, terutama bagi generasi muda.

Hingga akhir acara, kegiatan berlangsung tertib dan kondusif. Kirab budaya ini menjadi penanda bahwa menyambut tahun baru tak selalu tentang gemerlap, tetapi juga tentang menghormati masa lalu, bekerja di masa kini, dan merawat harapan untuk masa depan. (Vha)