Telaga Sarangan Disorot Buramnya Sinergi Antar Lembaga, “Yang Diperjuangkan Bukan Alam, Tapi Kepentingan”

Tags: , , , , , ,
oplus_1026

Magetan — Nusativi.com — Telaga Sarangan, mutiara wisata andalan Kabupaten Magetan, kini berada di ujung tanduk. Di tengah upaya pemerintah daerah menggenjot pariwisata dan pendapatan asli daerah (PAD), kawasan wisata ini justru terjebak dalam pusaran kepentingan antar lembaga Pemerintah Kabupaten Magetan, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, dan Perhutani.

Alih-alih menjadi kolaborasi, pengelolaan Sarangan justru menggambarkan wajah birokrasi yang terpecah. BBWS mengurus air, Perhutani menjaga hutan, sementara Pemkab berfokus pada retribusi wisata. Tiga lembaga, tiga arah, tanpa satu visi.

Akibatnya, penataan kawasan, hingga program konservasi berjalan setengah hati. Proyek banyak mandek di meja koordinasi, sementara di lapangan, ekosistem Sarangan kian tertekan oleh limbah wisata, dan alih fungsi lahan.

“Yang diperjuangkan bukan lagi kelestarian alam, tapi siapa yang paling berhak menentukan kebijakan,” tegas Rudi Setiawan, selaku aktivis lingkungan di Magetan.

Menurut Rudi, ketidakhadiran forum koordinasi lintas instansi menunjukkan lemahnya kepemimpinan dalam mengelola kawasan strategis ini. Ia menyebut, ego sektoral dan pendekatan administratif telah menggagalkan semangat konservasi yang seharusnya menjadi pondasi utama pengelolaan kawasan alam.

 “BBWS sibuk dengan teknis air, Perhutani alih-alih menjaga kawasan hutan dan vegetasi di sekitar telaga, sementara Pemkab mengejar target wisata. Tapi siapa yang benar-benar memikirkan daya dukung lingkungannya? Tidak ada,” ujarnya dengan nada geram.

Rudi menambahkan, tanpa regulasi dan komitmen bersama, pengelolaan Sarangan hanya akan melahirkan proyek tambal sulam. Ia mengkritik kebiasaan pemerintah daerah yang cenderung lebih fokus pada gembar gembor peningkatan PAD tanpa disertai dengan tata kelola kawasan wisata yang baik.

“Setiap tahun ada proyek penataan, tapi tidak pernah menyentuh akar masalah. Sampah menumpuk, pedagang semrawut, kendaraan masuk area telaga membuat lalu lintas amburadul, banyak alih fungsi lahan, tapi semua diam karena ini soal kewenangan antarinstansi,” jelasnya.

Meski setiap tahun Telaga Sarangan diguyur berbagai proyek penataan dan pembangunan, perubahan mendasar tak kunjung terlihat. Pembangunan hanya menyentuh aspek fisik seperti pavingisasi dan fasilitas tambal sulam wisata tanpa menyelesaikan masalah pokok seperti limbah wisata, serta tata ruang sempadan yang semrawut. Akibatnya, lingkungan Sarangan justru makin tertekan dan kualitas ekosistem menurun.

Selain itu, tidak adanya keberanian politik dari Pemkab Magetan membuat arah pembangunan Sarangan stagnan. Tidak ada pemimpin yang mampu menyatukan tiga lembaga besar di kawasan ini. Proyek hanya menjadi ajang seremonial, bukan solusi.

Sarangan tidak pernah berubah bukan karena kurang potensi, melainkan karena tidak pernah benar-benar dikelola bersama. Selama sinergi hanya berhenti di meja rapat dan kebijakan tidak berpijak pada prinsip ekologi, Sarangan akan tetap stagnan indah di permukaan, tapi rusak perlahan di dalamnya. (Vha)