
Magetan — Nusativi.com — Upaya Pemerintah Kabupaten Magetan dalam menekan volume sampah terus bergulir melalui pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) di berbagai wilayah. Salah satu fasilitas yang baru rampung dan kini telah beroperasi adalah TPS3R Barokah Kelurahan Mranggen, Kecamatan Maospati.
Kepala Kelurahan Mranggen, Agus Heru Maryanto, mengungkapkan bahwa keberadaan TPS3R ini menjadi titik balik penanganan sampah di wilayahnya. Meski demikian, operasionalnya masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait minimnya sumber daya manusia.
“Saat ini TPS3R Barokah masih melakukan pemilahan sampah secara manual. Mesin pencacahnya memang baru datang, tetapi kendala kita adalah kekurangan tenaga untuk mengoperasikan alat pencacah. Jadi harus tambah personil, dan ini yang mau kita rapatkan terlebih dahulu,” jelas Agus.
Ia menuturkan, saat ini hanya terdapat empat tenaga kerja yang menangani operasional TPS3R. Dengan jumlah terbatas itu, setiap personel harus merangkap banyak tugas.
“Tenaga kita ada 4 orang. Karena keterbatasan tenaga, masing-masing orang pekerjaannya dobel, mulai dari pengambilan sampah, memilah, hingga nantinya menjadi operator mesin pencacah,” imbuhnya.
Keberadaan TPS3R Barokah tidak hanya meningkatkan kualitas lingkungan, tetapi juga mengubah kebiasaan warga dalam mengelola sampah. Hapsa, salah satu warga Kelurahan Mranggen, menyampaikan bahwa fasilitas baru ini membawa perubahan besar.
“Tentunya TPS3R Mranggen membawa dampak besar. Dulu banyak warga membuang sampah di selokan atau membakar sampah di halaman rumah. Sekarang semua sudah dialihkan ke TPS3R,” ujarnya.
Hapsa menambahkan bahwa pertumbuhan penduduk, terutama karena keberadaan mahasiswa Unesa yang tinggal di kos-kosan sekitar Mranggen, membuat produksi sampah meningkat dari tahun ke tahun.
“Produksi sampah ikut naik. Harapan kami dengan adanya mesin pencacah baru ini bisa mengurangi volume sampah dan memanfaatkan sampah menjadi pundi-pundi rupiah,” tambahnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa warga dikenakan iuran Rp9.000, sementara pendatang atau penghuni kos dibebankan tarif Rp5.000 setiap bulan.
Senada, warga lain bernama Marjono turut mengapresiasi keberadaan TPS3R. Menurutnya, fasilitas ini meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
“Saya sangat mendukung sekali. Dampaknya sekarang lingkungan jadi lebih bersih,” ungkapnya.
Dari sisi pemerintah daerah, Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PUPR Magetan, Rokhmat Zainuddin, menegaskan bahwa TPS3R merupakan program strategis untuk mengurangi beban sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Kami memaksimalkan pengelolaan sampah mulai dari tingkat paling bawah, sehingga TPA tidak cepat terisi penuh dan dapat digunakan lebih lama,” ujarnya. Senin, (08/12/2025).
Rokhmat mengakui masih ada beberapa hal teknis yang perlu dievaluasi, namun manfaat TPS3R sudah terlihat jelas. Selain membatasi volume sampah, fasilitas ini juga mampu memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui pengolahan sampah bernilai jual.
“TPS3R bukan hanya solusi masalah sampah, tapi juga dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat,” jelasnya.
Ia berharap pengelolaan sampah terpadu dari tingkat desa hingga kabupaten akan semakin membaik, demi mewujudkan lingkungan yang lebih bersih dan sehat bagi warga Magetan. (DK)
Related Posts

Perkuat Sinergi Antarperangkat Desa, 45 Pengurus PPDI Magetan Resmi Dilantik

Bakesbangpol Magetan Edukasi Pemilih Pemula, Generasi Muda Diajak Tolak Politik Uang

HUT ke-81 TNI di Tulungagung, Pemkab Tekankan Penguatan Sinergi untuk Menjaga Kondusivitas Daerah

AJT Terima Piagam Penghargaan dari Kodim 0807/Tulungagung, Komitmen Jaga Profesionalisme Pers

Tunjukkan Kekayaan Budaya, Plt. Bupati Tulungagung Boyong 15 Perajin Batik Tampil di Tunjungan Plaza Surabaya







