
Magetan — Nusativi.com — Graha Literasi Plaosan, yang semula digadang-gadang menjadi pusat kegiatan membaca dan literasi masyarakat pegunungan di Kabupaten Magetan, kini justru menjadi simbol gagalnya perencanaan pembangunan daerah. Bangunan megah yang berdiri di kawasan wisata itu kini sepi dan tak jelas arah pemanfaatannya.
Padahal proyek tersebut menghabiskan anggaran besar dari APBD, dengan janji menghadirkan ruang baca publik, pelatihan literasi, dan pusat kegiatan masyarakat. Namun setelah peresmian seremonial berlalu, bangunan itu hanya menjadi hiasan beton tanpa jiwa — sunyi tanpa aktivitas, dan tanpa manfaat nyata bagi warga.
Janji besar untuk menghadirkan “ruang belajar masyarakat” tinggal slogan. Tak ada aktivitas literasi, tak ada komunitas yang diberdayakan, dan tak ada pengelolaan berkelanjutan.
Banyak kalangan menilai, kegagalan Graha Literasi Plaosan mencerminkan lemahnya perencanaan pembangunan daerah yang cenderung berorientasi pada proyek, bukan manfaat.
“Pemerintah daerah selalu bangga dengan proyek-proyek fisik, tapi lupa bahwa literasi tidak tumbuh dari beton. Literasi tumbuh dari partisipasi dan budaya belajar yang dibangun dari bawah,” ujar Safrudin, salah satu aktivis pemerhati kebijakan publik di Magetan, saat diwawancarai awak media.
Menurut Udin, pembangunan Graha Literasi hanyalah contoh dari proyek lima tahunan pejabat daerah yang muncul di akhir masa jabatan, dikerjakan cepat, lalu ditinggalkan begitu saja.
“Kalau ditanya manfaatnya untuk masyarakat, jawabannya nihil. Bangunan berdiri, tapi tidak hidup. Pemerintah terlalu sibuk mengejar citra, bukan fungsi,” tegasnya.
Ia menilai, kondisi ini terjadi karena tidak adanya konsep keberlanjutan dan pengelolaan partisipatif.
“Pemerintah daerah membangun tapi tidak menyiapkan siapa yang mengelola, siapa yang bertanggung jawab, dan bagaimana kegiatan berjalan. Tanpa ekosistem literasi, bangunan seperti ini hanya akan jadi simbol kegagalan,” ungkapnya.
Fenomena Graha Literasi hanyalah satu dari sekian banyak proyek di Magetan yang terjebak dalam siklus politik pembangunan. Setiap pergantian pejabat, selalu muncul proyek baru tanpa evaluasi dari yang lama.
“Pola seperti ini harus dihentikan. Masyarakat butuh program yang hidup, bukan bangunan mati. Kalau terus begini, Magetan akan penuh gedung yang tidak berfungsi,” tegasnya.
Ia juga menambahkan, bahwa pembangunan tanpa visi sosial hanya menghasilkan “infrastruktur kosong” proyek yang terlihat indah di foto, tetapi tidak menyentuh kebutuhan rakyat.
Graha Literasi Plaosan seharusnya menjadi ikon kecerdasan dan kemajuan masyarakat lereng Lawu. Namun kenyataannya, bangunan itu kini menjadi simbol dari gagalnya tata kelola pembangunan daerah.
Tanpa pengelolaan, tanpa program, dan tanpa kesadaran akan pentingnya keberlanjutan, Graha Literasi hanya menjadi monumen pemborosan anggaran.
“Literasi tidak bisa dibangun dengan proyek instan. Dibutuhkan keberpihakan, pendampingan, dan konsistensi pemerintah. Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya proyek dibangun untuk kepentingan politik, bukan untuk rakyat,” tutup Udin dengan nada kecewa. (Vha)
Related Posts

Perkuat Sinergi Antarperangkat Desa, 45 Pengurus PPDI Magetan Resmi Dilantik

Bakesbangpol Magetan Edukasi Pemilih Pemula, Generasi Muda Diajak Tolak Politik Uang

HUT ke-81 TNI di Tulungagung, Pemkab Tekankan Penguatan Sinergi untuk Menjaga Kondusivitas Daerah

AJT Terima Piagam Penghargaan dari Kodim 0807/Tulungagung, Komitmen Jaga Profesionalisme Pers

Tunjukkan Kekayaan Budaya, Plt. Bupati Tulungagung Boyong 15 Perajin Batik Tampil di Tunjungan Plaza Surabaya


