PKB Magetan Kehilangan Arah: “Kader Dikorbankan, Prinsip Ditinggalkan”

Tags: , , , , , , ,

OPINI : Rudi Setiawan

Magetan — Nusativi.com — Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Kabupaten Magetan kembali menjadi sorotan publik. Partai yang lahir dari rahim perjuangan Nahdlatul Ulama (NU) itu kini dinilai telah kehilangan ruh perjuangan dan semangat ke-NU-annya. Sikap partai yang tidak menghargai kader sendiri, serta ketidakjelasan arah dukungan dalam kontestasi Pilkada Magetan, memperkuat kesan bahwa PKB tengah berada dalam pusaran kepentingan politik yang sempit dan pragmatis.

Pergantian Antar Waktu (PAW) terhadap salah satu anggota DPRD Magetan dari Fraksi PKB, Nur Wahid atau yang akrab disapa Gus Wahid, menjadi puncak kegelisahan publik. Keputusan tersebut dinilai sarat muatan politik pasca-Pilkada 2024 dan mencerminkan lemahnya penghormatan terhadap kader yang telah berjuang membesarkan nama partai di tingkat akar rumput.

Langkah PAW yang terkesan tergesa-gesa ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah PKB masih berpihak pada nilai keadilan dan penghargaan terhadap kader, atau justru tersandera oleh kepentingan kelompok tertentu di internal partai?

Banyak kalangan menilai, keputusan tersebut tidak hanya menggerus kepercayaan publik terhadap PKB, tetapi juga berpotensi mengikis marwah ke-NU-an yang selama ini menjadi identitas ideologis partai. PKB Magetan dinilai plin-plan — tidak konsisten antara ucapan dan tindakan, serta gagal menunjukkan sikap politik yang elegan dan berintegritas.

Kader yang seharusnya menjadi kekuatan moral dan politik partai justru dipinggirkan tanpa dasar yang jelas. Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin PKB Magetan akan kehilangan simpati dan kepercayaan dari warga Nahdliyin yang selama ini menjadi basis utama dukungan.

Kini, publik menanti: apakah PKB Magetan berani melakukan koreksi dan kembali ke khitah perjuangan, atau justru terus terjebak dalam drama politik internal yang menggerus wibawa partai dan nilai ke-NU-an yang diwariskan para pendiri?

Ironisnya, dalam tradisi partai yang mengaku berakar dari nilai-nilai Nahdlatul Ulama, seharusnya setiap persoalan diselesaikan dengan tabayyun—klarifikasi dan musyawarah untuk mencari kebenaran secara adil dan terbuka. Namun, prinsip itu tampaknya diabaikan. Proses pemberhentian dilakukan tanpa kejelasan komunikasi dan tanpa menghargai hak moral kader yang telah berjuang membesarkan partai dari bawah.

Langkah tergesa-gesa ini bukan hanya mencederai etika politik, tetapi juga berpotensi mengikis marwah ke-NU-an yang menjadi identitas utama PKB. Ketika keputusan politik lebih didorong oleh emosi dan kepentingan sesaat daripada nilai dan kebersamaan, maka di sanalah ruh perjuangan partai mulai mati.

Kini, publik menilai PKB Magetan telah kehilangan arah. Partai yang seharusnya menjadi teladan dalam kedewasaan politik justru terjebak dalam pusaran konflik internal yang memalukan. Jika tidak ada langkah koreksi dan pemulihan marwah, bukan mustahil kepercayaan kader dan masyarakat akan benar-benar hilang — meninggalkan PKB hanya sebagai nama tanpa makna. (Editor : Vha)